Sale!

DUNIA KEHIDUPAN TOKOH SIMBOLIK

Untuk menerapkan azas umum telaah fungsi sastra dibutuhkan sejumlah pendekatan yang relevan. Dalam bab
II ditawarkan pendekatan representasi, fenomenologi, iiikausal, konstitutif, dan pemahaman (verstehen). Pendekatan pengejawantahan sebagai terjemahan   kata  representation dipilih untuk memberi penguatan, bahwa   sastra tidak mengada atas kehendak dirinya, melainkan oleh  tindakan kreator. Pada pemahaman tersebut bentuk bukan menjadi tujuan, tetapi sebagai medan parasitis pesan atau kehendak dan harapan kreator. Karena kehidupan kreator takterpisahkan   dengan  onteks ruang dan waktu nyata maka tindakan melahirkan teks adalah pengejawantahan kehendak dan harapan­harapan kreator dalam memaknai dirinya bagi kehidupan. Pada posisi tersebut   sastra   ada berarti menjadi fenomena pemikiran sosial budaya jika dikaitkan dengan konteks yang melatarbelakangi
pelahirannya. Sebagai fenomena sosial budaya, di dalamnya akan dijumpai tokoh simbolik imajinatif yang menjalankan
kehidupan simbolik, yakni tokoh yang berfikir dan bertindak dalam ruang dan waktu sebagaimana tokoh nyata, jika
kehendak dan harapannya diejawantahkan dalam   medan parasitis berbentuk prosa. Pada kondisi seperti itulah ditemukan kausa­kausa yang menjadi motif tokoh simbolik melakukan tindakan sosial. Akibatnya dunia kehidupan
simbolik tokoh akan berada dan mengada simultan dengan unsur konstitutif lainnya, yakni konteks sosial budaya
sebagaimana yang dijumpai dalam ruang dan waktu nyata. Kesatuan teks dengan pengejawantahan tersebut tidak
sebagaimana adanya seperti dunia kehidupan nyata   yang dijumpai kemarin, melainkan syarat dengan motif yang
dapat ditelusur kembali melalui tanda visualnya (kata, kalimat, fragmen). Dipahami demikian, karena teks adalah
dunia yang sengaja diciptakan   oleh kreator. Karena itu untuk menemukan motif di balik pelahirannya menjadi tidak relevan jika didekati sebagai fakta obyektif untuk dibuatkan penjelasan­penjelasan (erklaaren) melainkan menjadi relevan jika didekati sebagai fakta pengejawantahan pemikiran yang syarat nilai untuk dibuatkan pemahaman (verstehen).

Rp 125.000 Rp 68.750

SKU: 978-602-1223-67-3 Category:

About The Author

Sunoto

Untuk menerapkan azas umum telaah fungsi sastra dibutuhkan sejumlah pendekatan yang relevan. Dalam bab II ditawarkan pendekatan representasi, fenomenologi, iiikausal, konstitutif, dan pemahaman (verstehen). Pendekatan pengejawantahan sebagai terjemahan   kata  representation dipilih untuk memberi penguatan, bahwa   sastra tidak mengada atas kehendak dirinya, melainkan oleh  tindakan kreator. Pada pemahaman tersebut bentuk bukan menjadi tujuan, tetapi sebagai medan parasitis pesan atau kehendak dan harapan kreator. Karena kehidupan kreator takterpisahkan   dengan  onteks ruang dan waktu nyata maka tindakan melahirkan teks adalah pengejawantahan kehendak dan harapan­harapan kreator dalam memaknai dirinya bagi kehidupan. Pada posisi tersebut   sastra   ada berarti menjadi fenomena pemikiran sosial budaya jika dikaitkan dengan konteks yang melatarbelakangi pelahirannya. Sebagai fenomena sosial budaya, di dalamnya akan dijumpai tokoh simbolik imajinatif yang menjalankan kehidupan simbolik, yakni tokoh yang berfikir dan bertindak dalam ruang dan waktu sebagaimana tokoh nyata, jika kehendak dan harapannya diejawantahkan dalam   medan parasitis berbentuk prosa. Pada kondisi seperti itulah ditemukan kausa­kausa yang menjadi motif tokoh simbolik melakukan tindakan sosial. Akibatnya dunia kehidupan simbolik tokoh akan berada dan mengada simultan dengan unsur konstitutif lainnya, yakni konteks sosial budaya sebagaimana yang dijumpai dalam ruang dan waktu nyata. Kesatuan teks dengan pengejawantahan tersebut tidak
sebagaimana adanya seperti dunia kehidupan nyata   yang dijumpai kemarin, melainkan syarat dengan motif yang dapat ditelusur kembali melalui tanda visualnya (kata, kalimat, fragmen). Dipahami demikian, karena teks adalah dunia yang sengaja diciptakan   oleh kreator. Karena itu untuk menemukan motif di balik pelahirannya menjadi tidak relevan jika didekati sebagai fakta obyektif untuk dibuatkan penjelasan­penjelasan (erklaaren) melainkan menjadi relevan jika didekati sebagai fakta pengejawantahan pemikiran yang syarat nilai untuk dibuatkan pemahaman (verstehen).

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “DUNIA KEHIDUPAN TOKOH SIMBOLIK”